Tuesday, May 22, 2012

Prinsip Kekuatan Otak

Otak manusia adalah suatu yang tampak mempesona dengan jutaan kumparan yang berkelip membentuk pola tertentu, suatu pola yang penuh arti dan tak kunjung diam, yang terdiri atas perubahan yang harmoni dari pola-pola yang lebih kecil. Itu seperti Galaksi Bimasakti memasuki suatu kosmik yang berdansa


Dalam diri seseorang sebenarnya telah dikaruniai oleh Tuhan sebuah jiwa, di mana dengan jiwa tersebut, tiap orang bebas memilih sikap. Bereaksi positif atau negatif, bereaksi benar atau salah, bereaksi berhenti atau melanjutkan, bereaksi marah sabar, bereaksi reaktif atau proaktif, bereaksi baik atau buruk. Andalah sebenarnya penanggung jawab penuh dari reaksi diri anda, sikap anda, dan keputusan anda.


Sebuah contoh yang lebih ringan lagi. Ini sebuah kisah fiksi dalam melodrama layar lebar yang bertutur dengan latar belakang perang dunai kedua. Roberto Benigni, pemeran ayah dari seorang anak kecil berusia tujuh tahun. Istrinya, diperankan Nicoletta Braschi, dipisahkan Nazi dari suaminya. Benigni dan anaknya menjadi tawanan tentara Nazi Jerman di kamp konsentrasi di Auschwitz. Mereka sudah tidak lagi memiliki kebebasan, hidup di dalam suatu kawasan yang dilingkari kawat berduri dan dijaga ketat pasuka Nazi bersenjata lengkap, serta anjing pemburu yang ganas. Namun Benigni “mengkondisikan” anaknya dengan mengatakan bahwa mereka sedang bermain perang-perangan, sehingga anaknya termotivasi untuk menang.


Pada suatu malam yang sangat dingin, di mana pakaian tidak memadai, serta kekurangan makanan, anaknya mulai merasakan penderitaan dan kebosanan yang amat sangat. Sang anak ingin menghentikan permainan tersebut dan berkata: “Saya tidak mau melanjutkan permainan ini.” Benigni merasakan perasaan sang anak. Lalu dengan wajah sedih dan memelas Benigni berkata kepada sang anak: “Baiklah kita menyerah kalah, mari kita hentikan permainan ini,” sambil membereskan pakaian dan perlengkapan yang dimilikinya, yaitu selimut kumal, baju kotor dan sepatu buntutnya. Kemudian Benigni berjalan gontai ke arah pintu keluar kamar sambil berkata lirih kepada sang anak: “Kita kalah…, dan hadiah sebuah tank akan diambil oleh orang lain.” Sang anak menatap ayahnya dan tiba-tiba berseru: “Tidak ayah, saya ingin memenangkan permainan ini dan mendapatkan hadiah sebuah tank!


Pada suatu saat sang anak bertanya kepada sang ayah setelah mendengar berita dari temannya, gianluca dan Bartolomeo, bahwa penghuni di kamp kosentrasi ini akan dibakar hidup-hidup di dalam oven dan kemudian menjadi bahan pembuat kancing dan sabun! Benigni tercenung lalu menjawab dengan jenaka: “Masak sih temanmu si Gianluca dan Bartolomeo akan dijadikan bahan kancing dan sabun?” “Kalau begitu mari kita cuci tangan dengan sabun yang terbuat dari Gianluca.” Kemudian Benigni mencopot salah satu kancing bajunya dan menjatuhkannya ke lantai dingin dan kotor seraya berkata: “Lihat, si Bartolomeo jatuh.” Sang anak tertawa.


Suatu hari tiba-tiba pasukan Jerman melakukan pembunuhanmassal di kamp konsertrasi tersebut, setelah mengetahui bahwa pasukan sekutu akan menguasai kota Auscheitz. Benigni harus menyelamatkan anak dan istrinya. Maka mereka berdua melarikan diri dari kamar untuk mencari tempat persembunyian. Benigni menyembunyikan sang anak di dalam sebuah kotak kecil. Benigni berkata: “Nak, hari ini adalah puncak permainan. Kita hrus menang. Kamu harus bersembunyi di dalam kotak ini dan jangan sampai terlihat oleh siapa pun karena semua orang akan mencarimu, kamu harus mendapatkan hadiah tank.” Maka Benigni memasukkan sang anak ke dalam kotak tersebut. Lalu Benigni mencari ibu dari sang anak itu menyelematkannya pula. Sementara itu proses eksekusi atau pembantaian sedang berlangsung dengan keji. Pembunuhan massal dengan cara memasukkan para tawanan ke kamar gas dan kemudian membakar mayatnya. Abu mayat berterbangan di atas kota Auschwitz. Namun malang bagi Benigni, dia tertangkap oleh tentara Nazi. Dia digelandang oleh seorang tentara Nazi. Dan ketika mereka berjalan bertepatan melewati kotak kecil di mana sang anak bersembunyi, serta moncong senapan mengarah di belakang kepala beginin tersadar  bahwa ia sedang diawasi anaknya, dan ia lansung berjalan dengan sikap tegak layaknya tentara yang sedang berparade sambil memberi hormat. Sang anak belummenyadari. Ia masih tetap bersembunyi, sesuai pesan sang ayah. Tiga jam kemudian, tiba-tiba terdengar suara menderu-deru. Sebuah tank Amerika lewat di depan tempat persembunyian sang anak. Sang anak langsung loncat keluar sambil menatap tank Amerika tersebut: “Inilah hadiahku, aku menang ayah…” tang tersebut berhenti, seorang tentara Amerika mengangkat anak tersebut dan mengikutsertakannya masuk ke dalam tank. Sang anak memanangkan permainan ini.


Ini adalah kisah dari sebuah film peraih piala Oscar yang berjudul “Life is Beautiful”. Kisah ini dekiranya bisa menggambarkan bagaimana dia mampu menentukan pilihan, sikap, dan reaksi atas kejadian yang menimpa anak dan dirinya. Kemampuan mengendalikan hati dan pikiran. Meskipun secara fisik ia terbelenggu, namun ia mampu berpikir merdeka. Itulah yang disebut kemerdekaan yang sesungguhnya. Berpusat pada prinsip. Tanpa memiliki prinsip yang kuat dan benar, maka rintangan dan cobaan tersebut niscaya akan menggilas dirinya, kamp konsentrasi Auschwitz hanya bisa membelenggu fisiknya, namun tak mampu membelenggu pikirannya.


Hal ini menjelaskan bahwa kita memiliki suatu kebebasan untuk memilih reaksi terhadap segala sesuatu yang terjadi atas diri kita. Andalah penanggungjawab utama atas sikap anda, bukan pada lingkungan anda. Di sanalah bersemayam kepedihan, atau kebahagiaan. Andalah sang penentu.


Lingkungan bisa berubah-ubah dalam hitungan detik tanpa bisa diduga. Namun prinsip adalah abadi. Prinsip tidak berubah. Di sanalah terletak pusat rasa aman yang hakiki. Rasa aman yang tercipta dari dalam, bukan di luar. Prinsip yang benar bukanlah sekedar sikap “proaktif” yang selama ini dikenal di barat, yaitu melihat dan berespon dengan cara yang “berbeda” tanpa prinisp dasar yang jelas. Prinsip dasar adalah suatu kesadaran fitrah (awarenes), berpegang kepada Pencipta yang abadi. Prinsip yang esa, Laa Illallah.


Kemampuan untuk “mengendalikan sukma” ketika suatu permasalahan terjadi atas diri kita (proaktif) adalah sangat sulit dilakukan tanpa adanya kekuatan prinsip yang bisa dipegang teguh. Kemampuan untuk mengendalikan suka (proaktif) melalui prinsip Allah Yang Esa saya namakan Kekuatan Prinsip. Inilah dasar penjernihan emosi kita, bukan proaktif seperti yang diajarkan oleh kalangan orang-orang barat yang masih meraba-raba itu.


Kekuatan Prinsip selanjutnya akan menentukan tindakan apa yang akan diambil, jalan yang fitrah atau jalan non-fitrah cenderung menyesatkan danmerugikan. Sedangkan jalan fitrah membimbing ke arah tindakan yang positif. Jalan fitrah adalah suatu tindakan yang dibimbing oleh suara hati. Suara hati berasal dari God-Spot. Ini sesuai dengan pendapat jalaludin Rumi, Danah Zohar, Ian Marshall, V.S. Ramachandran.


semoga bermanfaat...

1 comment:

Newer Post -MASERFISURA-